Sabtu , Agustus 19 2017
Home / Inspirasi / Seulas Kemakmuran
foto cindy fiona

Seulas Kemakmuran

 

Perkenalkan, singkat saja-namaku Yuda. Tak ada yang lebih menarik ketimbang berat badan dan pekerjaanku. Aku dilahirkan untuk menjadi makmur, dan aku tahu itu. Takdir sedemikian rupa terkadang tak semuanya hati mampu menerima, kemakmuran membuat tubuhku lumayan besar daripada kebanyakan pria, dan aku memutuskan untuk ke pusat kebugaran hari ini.

Singkat cerita, ini mengenai sebuah perasaan menggebu kepada seorang wanita mungil yang menarik perhatian setahun terakhir. Awalnya aku memang bangga memiliki tubuh seperti ini, selain lucu dan membuatku tampak baby face ini menandakan bahwa aku benar-benar mensyukuri hidup. Namun nyaris aku melupakan prinsip-prinsip itu karenanya—Dira.

Di pusat kebugaran sebulan sebelum ulang tahunnya:
“Semangat..semangat. Ayoo yudaa, you’re the strongest guy ever”, kataku meyakinkan diri.

Lututku mendadak lemas, tubuh seperti baru saja dikejuti oleh air terjun. Basah kuyup. Aku menjatuhkan tubuh ke matras, sejatuh-jatuhnya—aku tak kuat. Sudah—sudah cukup penderitaan hari ini, aku benci gym sesungguhnya.

“Kamu suka kesini juga?”, suara semriwing itu, iya itu aku tau jelas pemiliknya meski dunia mendadak gelap sejenak, hiperbola cinta membawaku sekacau ini.

“Iya aku lagi ada program diet, kamu kesini juga, Dir ?”, tanyaku agak gelagapan.

“Aku kesini memang tiap sabtu, yud”, balasnya sembari duduk disebelahku, tengtop merah muda, rambut kuncir kuda dan poninya yang basah karena keringat, bibirnya menyala terlapis minyak peach. Oh Tuhan… andai kau bisa membayangkan dan mengilustrasikan. Akan kupastikan ia akan menjadi Dira-ku.

“Mau minum bareng ? Atau makan septong sandwhich”, aku memberanikan diri, aku memang berani hanya entahlah, dira membuatku lupa siapa diriku.

“Boleh, but no sandwhich. Kalau program diet, aku bawa sereal dari jagung apung biru muda, makan aja untuk kamu. Oiya, tapi tinggal separuh”, ia merogoh-rogoh seisi tas, mengeluarkan tupperware kecil berwarna biru awan. Yaampun itu seperti bukan makanan untuk manusia, namun aku mebayangkan sendok yang dipakai bekas Dira, serealnya pun—meski aneh berwarna biru muda seperti bukan makanan dari bumi, namun kita makan di satu wadah bersama hanya waktunya saja yang berbeda, aku masih tak percaya mukzizat ini.

Sore yang hangat berakhir di kedai shake dekat tempat kami bertemu, kami berpisah dengan lambayan tangan dan pipiku yang merona.

Malam ini aku benar-benar kelaparan, aku merasa dunia mulai memintaku adil pada takdir baik yang selalu bersamaku sejak lahir. Balik kanan, kiri, terlentang, tengkurap, jongkok. Semua sudah kulakukan untuk lupa akan sepiring nasi goreng mama. Oh Dira, sebulan saja kan penderitaan ini akan berakhir ? Sampai kau mau menjadi milikku dan menerima kemakmuranku dengan apa adanya, benar kan ?

Seminggu berikutnya, tiga minggu sebelum ulang tahun Dira:
Aku kembali kepusat kebugaran dengan semangat yang masih membara, Dira akan membagi serealnya lagi padaku, itu yang mebuat langkah kaki terasa lebih ringan berada di atas treademill. Yeay.

“Hai, kamu datang lagi ?”, suara itu datang juga, aku memang hampir tiap hari bertemu Dira bagaimana tidak, kampusnya berada tepat disebelah kantor. Dan hampir setiap pagi aku tak pernah lupa untuk memberi senyum terhangat.

“Iya dong, ada misi mengapa aku jadi serajin ini. Tiap hari, kalau jam kerja, selepas kerja”, balasku terus berlari sambil melihatnya sesekali.

“Umurmu kan tidak berbeda jauh dariku, lebih tua dua tahun tapi sudah bekerja ditempat ternama dan menempati posisi yang keren juga, untuk apa program diet ? Cewek manapun mau lah yud pasti”, katanya melihatku dari samping kanan. “Dan dilihat-lihat kamu lucu”, tambahnya lagi sembari tersenyum. Yang aku tahu Dira memang gadis cuek yang rendah hati—dan bagiku itu cukup membuatnya cantik.

“Kamu juga cantik, mungil pula. Dan aku sangat suka warna peach dibibir kamu”, aku mulai melambatkan langkah, diam lama terpaku menatap kedua matanya juga tubuh yang dibalut tengtop, legging panjang dan sepatu nike abu-abu.

“Bisa aja…”, ia tersipu. Dan nyaris aku percaya bahwa ia adalah bidadari.

***

“Pak Yuda, selamat ya targetnya bisa anda capai dengan kinerja yang sangat baik pula. Saya bangga memiliki karyawan setotalitas anda”, kata seorang pria berkumis, dan kebetulan—kebetulan saja dia atasanku. Direktur Anaras Group, namanya Bapak Alltas.

“Tapi, kok Anda kurusan ya ? Apa terlalu berat pekerjaannya? Anda butuh sekretaris? Ajukan saja kandidatnya pada saya, tak apa jika memang perlu”, ia menambahkan. Ada kegembiraan yang menelisik ujung telinga, bukan karena aku dipuji, atau memang ia sampai mau memberikan seorang sekretaris, tapi—aku kurusan. Itu membuktikan bahwa aku benar-benar berhasil. Dira sabar ya, dua minggu lagi. Aku janji. Bathinku.

Senja ini, aku memutuskan menunggu Dira diluar gerbang kampusnya. Dengan seikat mawar merah muda. Aku pernah dengar bahwa ia tak suka warna menyala. Jadi sudah kupastikan ia memiliki hati yang lembut dan peka meski yang nampak tidak sepercis demikian.

Dua jam, tiga jam, Dira tak terlihat, sama sekali. Sudahlah toh sabtu depan aku masih bisa bertemu. Aku meyakinkan diri. Dalam perjalanan pulang dimobil avanza silver pikiranku mulai beriak kemana-mana, umurku genap 26—tahun ini. Apa yang terjadi jika Dira-ku bukan takdir baik. Aku belum pernah jatuh pada cinta sedalam ini sebelumnya. Aku memang yakin hidupku akan terus berjalan karena aku tak mungkin sepayah itu namun pertanyaannya akan kembali normalkah ? Atau akan membuatku jadi manusia seperti apa ? Ahh… pikiran ini menyakiti buket merah muda yang sedari tadi aku genggam. Sudahlah Yuda. Aku ulangi ‘you’re the strongest guy ever’.

***

Dua minggu sebelum ulang tahun Dira:
Aku pergi ke pusat kebugaran lebih pagi, menunggu didepan untuk kedatangan bidadariku, sudah seminggu terakhir ini, aku tidak melihatnya ke kampus. Mungkin ditempat ini dia akan muncul. Dan setahuku, badanku benar-benar turun drastis selepas pikiran senja di avanza silver beberapa hari yang lalu. Dira common, aku jadi lebih menyukai gym ketimbang tanpa kabarmu…

“Hey ? Program kamu berhasil kayaknya…”, suara itu akhirnya muncul, membawa semangat kembali menggelitik hati.

“Terimakasih ya”, kataku menarik lengannya. Untuk pertama kali, aku merangkulnya. Seperti terkurung disebongkah es, dan dia sinar matahari yang mencairkan.

“Kenapa ? Terimakasih untuk apa?”, dia agak canggung, suaranya hampir menyentuh daun telinga. Aku pikir aku sudah gilak dibuatnya.

“Terimakasih karena tetap hidup”, aku mengeratkan rangkulanku pada tubuh mungil itu. Entahlah… Aku hanya ingin perasaan ini menemui penawarnya, sudah setahun lebih aku menahan agar tetap terlihat biasa dan sebatas penggemar rahasia. Namun hati tetaplah hati, ia tak bisa diibaratkan dengan apapun karena sebenarnya ia memiliki kehidupan sendiri dalam relung.

“Kamu aneh, aku emang belum ditakdirin mati kali”, katanya melepaskan rangkulan sembari agak mengerut. Sudah kuduga ekspresi lugunya akan muncul di saat-saat seperti ini. Namun ia terlihat agak kaget.

“Maaf ya kelepasan Dira, hehe”, aku mulai merasa bahwa perlakuanku agak berlebihan namun mau bagaimana lagi ? Itu hati, bukan aku. Sekali lagi aku tegaskan itu hati, bukan aku.

***

Dua minggu berlalu, Dira bilang dia menghilang dari kuliah karena sempat sakit, namun setelah hari itu, hari sabtu di pusat kebugaran, aku tak menemukannya lagi. Ini hari ulang tahunnya, aku mendapat undangan, dan ini waktu yang tepat kukira. Aku benar-benar tak karuan. Yang aku takutkan hanya satu, bukan lagi berpikir dia enggan menerima, namun takut kehilangannya, takut terlambat menyambut hari-hari hidupnya. Aku sangat takut menhadapi kematian, bukan kematianku sendiri, aku sempat kehilangan mama yang mati karena kegemukan, juga papa yang mati di kapal karena serangan jantung. Semua proses kematian bagiku kelam, semua proses kepergian pun.

Dengan setangkai mawar biru muda, dan sebuah kalung bermotif matahari. Aku siap berangkat. Biru muda, itu tanda kehidupan. Dan aku berharap ia tetap hidup, itu saja dulu.

Di rumahnya seluas lobby kantorku, aku mulai mengetuk pintunya, kenapa sepi ? Bukankah ini harinya ? Aku mendapat undangan, pasti yang lainnya juga, seperti temannya mungkin, guru killernya, atau bahkan mantan pacarnya. Tapi diluar aku tak melihat ada sandal atau sepatu, hanya sepatu nike abu-abu, yang biasa ia gunakan kemana-mana. Tak ada yang menjawab, aku memberanikan untuk masuk.

“Diraa”, panggilku pelan.

Aku melihat ruang tamu kecilnya yang hidup, seluruh dindingnya dihiasi batu-batu kerikil menyala, cat dindingnya putih silau. Aku melihat satu ruangan lagi, dipintunya terdapat lukisan tangan ‘Planet Dira’ dan foto-fotonya. Ada yang janggal, keterangan foto-foto itu. 40 tahun yang lalu-sampai hari ini. Pintunya penuh dengan foto dan aku melihat pakaian serta sekelilingnyapun mengikuti keterangan tahun di dalam fotonya. Aku mulai berpikir keras, mulai membandingkan nya dengan kemakmuran yang selama ini kuperoleh, apa ia makmur dalam hal umur ? Entahlah…

Aku membaca buku harian setebal senjata pemukul anjing. Tebal sekali. Dan benar-benar janggal. Dia di bumi sudah 40 tahun ? Dan ia berasal dari planet yang muncul diantara lembayung dan pekat.

Oh tuhan… Apa ini takdir baikku juga ? Pantas saja wajahnya lain, cantik—namun seakan mengapung.

“Apa kamu masih mau mengikuti hatimu ?”, Dira muncul dari balik pintu. Dengan rambutnya yang tergerai panjang dan warnanya—warna rambutnya putih. Namun aku mengakuinya sekali lagi, ia tetap terlihat amat cantik.

“Karena yang aku tahu hati mudah belah ketimbang logika, maka aku akan tetap mengikuti hati. Aku menyukaimu dan aku yakin lebih dalam dari itu aku ingin bersama kamu”, kataku penuh. Dan aku yakin siap dengan apapun kedepannya, seperti aku harus resign dari pekerjaan untuk ikut ke planetnya dan mati disana, tanpa ada yang tahu dan kemungkinan-kemungkinan buruk lainnya—aku yakini bahwa aku siap. Karena ada rasa maka kuanggap itu semua indah.

“Ini belum apa-apa Yuda. Tetapkah kamu pada keyakinan ego. Mungkin kelak akan ada yang membuka sebuah tirai antara jurang tipis pemisah ego dan cinta. Tunggu saja”, kata-kata Dira menutup senja. Dan ia mengajariku berfantasi, bersamanya. Aku menikmati, dan kita lihat nanti apa makna kata yang tersirat itu.

———————

Seulas Kemakmuran adalah cerpen karya Bunga Leonnaricha, peserta Workshop Creative Writing for Young angkatan pertama.

 

Artikel Terkait:

Tentang admin

Selain publikasi, tim Gregetan juga menyediakan online & digital campaign, layanan content, content creation, content partnership, native ads dan social media consulting. Info lebih lanjut hubungi redaksi@gregetan.com

Cek juga yang ini..

Cewek Tertarik Sama Cowok yang Bisa Main Gitar

Selain sifat yang jauh dari nyebelin plus tampang kece, yang namanya pacaran juga butuh modal …

  • Waduh… alien

    • admin

      tulisan kak andi ditunggu ya

  • bayu

    twist nih ending sumpah gak ketebak

    • admin

      begitu ya kak 🙂